SULSEL NETWORK – Di Dusun Tamarunang, Desa Baji Mangngai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terjadi sebuah pergeseran paradigma yang menginspirasi: limbah makanan bukan lagi masalah, melainkan komoditas berharga. Sebuah inisiatif cerdas yang digagas PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin telah menyulap sisa-sisa makanan dari program pemerintah menjadi sumber pakan ternak berkelanjutan, menciptakan model ekonomi sirkular yang menguatkan ketahanan pangan lokal.
Inovasi ini berawal dari kolaborasi strategis antara Pertamina Patra Niaga dengan Badan Gizi Nasional (BGN), menyasar sisa makanan dari program "Makan Bergizi Gratis" (MBG). Program MBG yang dicanangkan pemerintah bertujuan mulia untuk meningkatkan gizi anak sekolah, dan di saat yang sama, menghasilkan potensi limbah organik yang sangat besar di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Alih-alih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan mencemari lingkungan, limbah makanan tersebut kini menjadi bahan baku utama bagi Kelompok Peternak Bebek Laleng Kassie. Setiap harinya, tim Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Baji Mangngai secara rutin mengumpulkan antara 100 hingga 150 kilogram limbah organik dari tiga SPPG di Mandai dan Biringkanaya.
Limbah dapur ini kemudian dipilah, ditimbang, dan diangkut secara profesional, memastikan bahwa apa yang dulunya sisa buangan, kini diubah menjadi pakan alternatif yang ramah lingkungan dan kaya nutrisi bagi ratusan bebek di Dusun Tamarunang.
Manfaat ekonomi dari program ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketua Kelompok Laleng Kassie, Maryama, mengungkapkan kelegaan para peternak. “Program ini sangat bermanfaat bagi kami, terutama dalam mendukung keberlangsungan usaha peternakan yang kami kelola bersama masyarakat,” ujarnya, Rabu (13/10/2025).
Maryama menambahkan bahwa dampak terbesar yang mereka rasakan adalah pada efisiensi biaya operasional. “Pemanfaatan limbah makanan ini membantu menekan biaya pakan yang selama ini menjadi pengeluaran terbesar,” katanya.
Pengurangan biaya pakan, yang biasanya mendominasi struktur pengeluaran peternakan, secara otomatis melambungkan margin keuntungan kelompok.
Sejak bermitra dengan Pertamina melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sejak tahun 2021, Kelompok Laleng Kassie menunjukkan perkembangan pesat. Mereka tidak hanya berhasil meningkatkan produksi telur bebek hingga ratusan butir per minggu, tetapi juga melakukan diversifikasi produk.
Telur segar kini diolah menjadi telur asin berkualitas tinggi dengan nilai ekonomi dan daya simpan yang lebih lama, sehingga pendapatan kelompok pun meningkat signifikan.
Baca Juga: Produk Lokal Go Global: UMKM Binaan Pertamina Patra Niaga Jadi Magnet di MotoGP Mandalika 2025
Inovasi lingkungan dalam program ini tidak berhenti pada pemanfaatan limbah makanan. Sebagian limbah organik juga dimanfaatkan sebagai media untuk budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF).
Maggot, yang dikenal memiliki kandungan protein tinggi, berfungsi ganda sebagai sumber protein alami dan pakan tambahan yang sangat efisien bagi bebek. Langkah ini semakin menguatkan efisiensi biaya dan produktivitas peternakan, sekaligus memberikan nilai tambah bagi pengelolaan sampah.
Andreas Yanuar Arinawan, Aviation Fuel Terminal Manager Hasanuddin, menegaskan bahwa inisiatif ini adalah manifestasi konkret komitmen perusahaan untuk mendukung keberlanjutan.
Artikel Terkait
Inovasi Berkelanjutan Pertamina: AFT Hasanuddin Sulap Limbah MBG Jadi Pakan Ternak, Perkuat Ketahanan Pangan Lokal
Dirut Pertamina Patra Niaga Kunjungi Terminal LPG Makassar, Pastikan Keandalan Sarfas dan Layanan Berjalan Prima
Rumah Asa di Tengah Kota: Puanmakari, Program Pertamina yang Pulihkan Senyum Anak-anak Korban Kekerasan