SulselNetwork.com -- Sepanjang tahun 2022, ternyata angka kasus perceraian di Kota Makassar, Sulawesi Selatan terbilang cukup tinggi. Dari data permohonan yang masuk di Pengadilan Agama Kelas 1A Makassar sebanyak 2.635 perkara.
Permohonan yang diajukan perempuan cukup tinggi sebesar 2.024 cerai gugat (CG). Sedangkan permohonan yang diajukan laki-laki sebanyak 611 cerai talak.
Dalam perjalanannya, 2.165 dikabulkan, 245 dicabut, enam ditolak, 24 tidak diterima, 21 digugurkan dan dua dicoret dari register.
Dengan tingginya angka perceraian tersebut memprihatinkan karena akan berdampak terhadap anak-anak mereka. Dikutip dari data PA Makassar, kasus perceraian itu, mayoritas istri yang mengajukan gugatan perceraian terhadap suaminya.
Baca Juga: Sandiaga Mau Gabung PPP, Dasco Sebut Reaksi Prabowo Seperti Ini
Akademisi Psikolog Universitas Negeri Makassar (UNM) Muh. Daud menyebutkan jika guvatan cerai terbanyak itu dilakukan oleh pegawai Pemkot Makassar.
"Kalau pengalaman menangani kasus Kasus perceraian di Pemkot Makassar," ujar Daud, dikutip dari Rakyat Sulsel.
Dekan Fakultas Psikologi UNM itu menuturkan, berdasarkan penelusuran. Dulu di BKD Makassar, pernah menemukan bahwa perceraian yang banyak terjadi di kalangan PNS lingkup Pemkot Makassar.
"Kami menemukan kalangan Guru terbanyak, dan setelah kita cermati kenapa banyak guru kaum perempuan mengajukan gugatan cerai karena rupanya banyak guru mengalami masalah keluarga dan kelihatannya tidak bisa terselesaikan," tuturnya.
Dosen yang berprofesi juga sebagai tim psikologis di berbagai kasus. Dia menyampaikan kalau dari sisi ekonomi bahwa suami pencari nafkah keluarga menjadi sumber kekuatan Ekonomi.
Tapi faktanya tidak sedikit para Guru khususnya perempuan itu memiliki suami yang tidak punya pekerjaan yang tetap dan jelas. Kondisi itulah maka waktu itu pihaknya menemukan Guru-guru yang mengajukan cerai kepada suaminya.
"Ditemukan dari Guru-guru yang mengajukan cerai memiliki suami pekerjaan yang jelas, tapi ada faktor lain jadi pemicunya," jelas Dosen UN itu.
Kendati demikian, soal pemicu perceraian. Dia mengatakan, mungkin faktor internal, dimana perempuan beraangkutan merasa tidak ada lagi kecocokan. Juga mungkin ada kekecewaan yang terjadi di antara keduanya.