Hadir di MIWF, Novel Sapaan Sang Giri Kisahkan Perbudakan Rakyat Nusantara di Afsel

photo author
Muammar M, Sulsel Network
- Jumat, 24 Mei 2024 | 05:05 WIB
Penulis novel, Isna Marifa bersama moderator saat peluncuran novel Sapaan Sang Giri dalam event Makassar Internasional Writers Festival (MIWF)
Penulis novel, Isna Marifa bersama moderator saat peluncuran novel Sapaan Sang Giri dalam event Makassar Internasional Writers Festival (MIWF)

SulselNetwork.com- Novel Sapaan Sang Giri resmi launching yang diterbitkan oleh Kabar Media ikut memeriahkan Event Makassar Internasional Writers Festival (MIWF) yang digelar di Benteng Rotterdam, Kota Makassar, 23-26 Mei 2024.

Novel yang ditulis Isna Marifa ini berkisah tentang perbudakan rakyat Nusantara (kini Indonesia) di Afrika Selatan pada zaman kolonial yakni tahun 1751.

Novel ini lahir dari berbagai riset oleh Isna setelah mengunjungi Afrika Selatan pada 2015 lalu. Kunjungan itu memberinya inspirasi dan dorongan untuk menuliskan kisah tentang orang-orang Nusantara yang dibawa ke Afrika Selatan. Lalu pada 2016, Isna mulai mencari referensi dan mengumpulkan data, barulah diawal tahun 2017 ia mulai menulis.

Baca Juga: Simak Yuk Cerita HAI ALBELAA di ANTV Episode 32, Kusum Lebih Memilih Pendidikan Daripada Pernikahan

Meski sudah banyak kisah duka lara para budak yang dijual ke Batavia, baik yang ditulis oleh Sastrawan Belanda maupun Indonesia, namun belum banyak yang secara spesifik menyoroti nasib budak yang dijual oleh VOC ke Tanjung Harapan.

Dengan ketelitian riset sejarah yang menakjubkan dan gaya tutur memikat, novel ini hadir tepat waktu mengisi peluang itu. Pembaca secara perlahan sekaligus mencekam, diajak mengikuti sepotong peristiwa menyedihkan di zaman kegelapan itu melalui jeritan lirih Wulan, gadis kecil asal Jawa yang dibawa oleh Ayahnya - seorang tukang kayu - pergi merantau ke Tanjung Harapan, menjadi hamba sahaya keluarga VOC dan menjalani kehidupan yang jauh dari layak di negeri orang lantaran tidak ada lagi harta yang bisa dipakai untuk membayar utang kepada 'lintah darat'.

Sesekali ungkapan hati Wulan tampak seperti prosa liris bernuansa kontemplatif, sementara pada kesempatan lain mengingatkan pembaca kepada larik-larik syair tembang macapat yang sarat berbicara tentang filosofi kehidupan, sekaligus kerinduan yang teramat sangat kepada tanah kelahiran nun jauh di Jawa.

Isna Marifa berharap, melalui novel ini, para keturunan Cape Malay yang mencari 'akarnya' dapat menemukan secercah harapan. Novel ini juga diterbitkan dalam versi Bahasa Inggris berjudul Montains More Ancient.

Berikut sinopsis novel Sapaan Sang Giri :

Saat itu tahun 1751. Wulan, usia sembilan tahun mendapati dirinya di belahan dunia lain, jauh dari desanya di Jawa. Ia terpisah dari kakek-nenek yang disayanginya, para kerabatnya yang suka bercengkrama, serta suara dan wewangian dari kampung halaman yang ia cintai.

Wulan dan ayahnya, Parto, diperbudak di lahan pertanian di ujung selatan Afrika, tanpa harapan untuk pulang. Mereka terus berpegang teguh pada identitas dan ajaran Jawa. Menghadapi getirnya hidup di Afrika. Mereka menjalin ikatan dengan orang-orang dari belahan bumi lainnya, membentuk komunitas yang kemudian dikenal sebagai kaum Cape Malay. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muammar M

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X