peristiwa

Basarnas Temukan Lokasi Jatuhnya Pesawat di Gunung Bulusaraung, Fokus Maksimalkan Golden Time untuk Evakuasi Korban

Selasa, 20 Januari 2026 | 07:32 WIB
Basarnas Temukan Lokasi Jatuhnya Pesawat, Fokus Maksimalkan Golden Time untuk Evakuasi Korban

 

SULSEL NETWORK — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) berhasil menemukan titik jatuhnya pesawat dalam waktu kurang dari 24 jam sejak laporan hilang kontak diterima pada Sabtu, 17 Januari 2026.

Penemuan cepat ini menjadi landasan utama bagi tim SAR gabungan untuk memaksimalkan "golden time" atau periode tiga hari pertama pasca-kejadian guna mencari dan mengevakuasi korban.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa kecepatan penemuan lokasi merupakan modal krusial dalam upaya penyelamatan.

“Kurang dari 24 jam sejak kejadian, tim SAR gabungan sudah berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Saat ini kami memaksimalkan 'golden time' pencarian, dengan harapan besar seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi, khususnya dalam kondisi selamat,” ujar Mohammad Syafii.

Baca Juga: Gubernur Sulsel Bersama Menhub dan Basarnas Evaluasi Pencarian Korban ATR 42-500

Hingga Senin, 19 Januari 2026, tim SAR gabungan telah berhasil menemukan dua orang korban. Satu korban berjenis kelamin laki-laki ditemukan pada hari Minggu, sementara satu korban perempuan ditemukan pada hari ini. Namun, Syafii mengingatkan bahwa wewenang identifikasi bukan berada di pihaknya.

“Perlu kami tegaskan bahwa proses identifikasi korban bukan menjadi kewenangan Basarnas, dan akan dilakukan oleh instansi yang berwenang sesuai prosedur,” tegasnya.

Kondisi medan di lokasi kejadian dilaporkan sangat ekstrem, berupa tebing curam dengan estimasi posisi korban berada di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak. Syafii menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah faktor alam.

“Tantangan terbesar yang dihadapi tim SAR gabungan saat ini adalah kondisi cuaca dan alam yang sangat ekstrem. Kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat menjadi faktor penghambat utama dalam operasi,” jelasnya.

Baca Juga: Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Bulusaraung, TRC Semen Tonasa Terjunkan Tim Evakuasi dan Logistik

Meskipun evakuasi udara menjadi prioritas untuk mempercepat proses, kendala jarak pandang akibat kabut tebal memaksa tim untuk bergerak lebih banyak melalui jalur darat.

“Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, tetapi hingga saat ini belum memungkinkan. Oleh karena itu, kami mengoptimalkan unsur darat yang secara bertahap melakukan pencarian dan upaya evakuasi,” ungkap Syafii.

Menutup keterangannya, Syafii menekankan bahwa seluruh personel bekerja dengan penuh dedikasi demi misi kemanusiaan ini. Ia berharap dukungan doa dari masyarakat agar operasi diberikan kelancaran.

“Ini adalah misi kemanusiaan. Seluruh personel SAR gabungan bekerja dengan penuh dedikasi, kehati-hatian, dan semangat kebersamaan. Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar operasi ini diberikan kelancaran dan keselamatan,” pungkasnya.

Tags

Terkini