Program restorasi mangrove Lantebung diawali melalui riset langsung ke warga, lewat evaluasi kegiatan rehabilitasi yang dilakukan 10 tahun terakhir ini.
“Selama 10 tahun ini kami dokumentasikan, juga identifikasikan faktor gangguan yang memengaruhi mengapa mangrove tidak bisa tumbuh,” jelas Nirwan Dessibali, Direktur Yayasan Konservasi Laut Indonesia (YKLI), lembaga non pemerintah yang mendorong program konservasi di Lantebung.
Baca Juga: Mulai Malam Ini Biasakan Tidur Jam Segini, Kata Dr dr Zaidul Akbar itu Disunnahkan Nabi, Begin8 Penjelasannya
Salah satu tantangan mangrove di Lantebung jelas Nirwan adalah faktor sedimentasi. Mangrove tak boleh di tanam terlalu jauh ke arah laut karena tinggi sedimentasi yang ada tidak sesuai dengan mangrove alami yang tumbuh.
Upaya ini ditangani dengan membangun guldan, sebuah bangunan persegi seluas 4×2 meter yang dikelilingi bambu sebagai penghalang. Di dalam guldan sedimen ditinggikan setinggi mangrove alami yang tumbuh di sekitar lokasi tersebut.
Tantangan lain adalah adanya sampah yang kemudian diatasi dengan menggunakan waring sebagai penghalang di sekeliling wilayah rehabilitasi, sehingga mangrove bisa tumbuh dan berfotosintesis dengan baik.
Kegiatan ini melibatkan beberapa pemuda sekitar untuk monitoring selama 8 bulan, di mana setiap bulan mereka melaporkan tingkat pertumbuhan mangrove, tinggi sedimen dan apa pembelajaran yang mereka dapatkan dari aktivitas tersebut.
Baca Juga: Simak Yuk Cerita HAI ALBELAA di ANTV Episode 32, Kusum Lebih Memilih Pendidikan Daripada Pernikahan
Pihak YKLI juga turut membangun bangunan pemecah ombak untuk mengatasi gangguan ombak tinggi, yang biasa terjadi diantara bulan Oktober – Januari.
“Kita harus optimis mangrove yang ada bisa dipertahankan dengan kepedulian bersama. Secara regulasi, pesisir Sulsel sudah ditetapkan sebagai green belt atau sabuk hijau. Wilayah 100 meter dari pasang tertinggi adalah kawasan konservasi dengan peruntukan sebagai ruang terbuka hijau,” pungkas Nirwan.***