ragam

G2C2 Hadir di Makassar: Mendorong Perempuan Muda untuk Memimpin Aksi Iklim

Selasa, 12 November 2024 | 17:08 WIB
Sederet Jenis Energi Terbarukan Ini Jadi Trobosan Paling Murah Atasi Perubahan Iklim (unsplash )

 

SulselNetwork.com -- Melanjutkan inisiatif di Medan, Sumatera Utara, dan Mataram, Nusa Tenggara Barat, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial bersama Teens Go Green Indonesia, menggelar Workshop Perempuan Muda Penggerak, Global Girls Creating Change (G2C2) di Makassar.

Sebanyak 42 perempuan muda berusia 15-18 tahun dari Sulawesi Selatan, khususnya yang berdomisili di Makassar dan sekitarnya mengikuti pelatihan advokasi, kampanye, dan komunikasi untuk membantu peserta memahami tantangan dan solusi krisis iklim.

Melalui kegiatan ini, program G2C2 hadir untuk mengasah keterampilan kepemimpinan, kampanye, dan advokasi iklim bagi perempuan muda, terutama mereka yang berada di daerah yang terdampak langsung oleh krisis iklim.

Baca Juga: CMSE 2024 #AkuInvestorSaham Dikunjungi 43 Ribu Orang, Naik 44,82 Persen Dibanding Tahun Sebelumnya

Dalam catatan akhir tahun (Catahu) 2023, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulawesi Selatan mencatat ada banyak potret krisis iklim dari hulu hingga ke hilir yang dirasakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan sejak pertengahan tahun 2023 hingga saat ini.

Sepanjang tahun 2023 saja misalnya, Sulawesi Selatan mengalami kekeringan berkepanjangan yang berdampak pada gagal panen dan krisis pangan. Beberapa daerah aliran sungai (DAS) mengering dan alih fungsi tutupan lahan berdampak pada kurangnya air irigasi untuk pertanian. Dampaknya, sekitar 153 ha lahan pertanian mengalami gagal panen.

Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil mengalami ancaman akibat tambang pasir laut dan reklamasi. Rencana Tata Ruang dan wilayah (RTRW) Sulawesi Selatan masih melegitimasi tambang pasir laut dan reklamasi yang telah jelas memberikan dampak buruk bagi masyarakat.

Sementara itu, menurut UN Women (2023), perempuan, terutama perempuan muda, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Tercatat, 4 dari 5 orang yang mengungsi akibat bencana adalah perempuan, dan anak perempuan memiliki kerentanan lebih untuk putus sekolah hingga dinikahkan paksa.

Ketidaksetaraan gender juga diperburuk karena perempuan dan anak perempuan sering kali bertanggung jawab untuk mengumpulkan sumber daya penting seperti air dan kayu bakar, yang membuat mereka lebih rentan terhadap kekerasan berbasis gender dan eksploitasi.

Karenanya, perempuan memegang peran penting sebagai agen perubahan yang bisa memimpin solusi iklim yang inklusif dan berkelanjutan.

Baca Juga: Dialog Isu Perkotaan, Ilham Fauzi: Transformasi Makassar, dari Kota Anarkis Jadi Kota Festival

Muhamad Hisbullah Amrie, Project Officer G2C2 Indonesia, dalam acara peluncuran menjelaskan, G2C2 hadir untuk memastikan perempuan muda memiliki keterampilan, kapasitas, dan dukungan yang mereka butuhkan untuk mengambil peran sebagai pemimpin dalam gerakan iklim.

Para peserta perempuan muda ini nantinya diharapkan bisa memiliki kapasitas yang mumpuni serta dapat memimpin aksi iklim yang setara gender dan inklusif di Sulawesi Selatan, maupun di level yang lebih luas.

Halaman:

Tags

Terkini