SulselNetwork.com — Hidup di dunia ini sejatinya ujian yang setiap orang harus melaluinya berdasarkan pada tuntunan dan pedoman yang telah ditetapkan. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ialah dua pokok pedoman hidup manusia yang telah mencakup seluruh sisi kehidupan.
Tiada satu pun pedoman yang lebih baik dari keduanya. Sebab di dalam ayat dan hadist Rasulullah, telah terkandung berbagai keutamaan yang akan membawa manusia pada tujuan akhirnya, yaitu kebahagiaan – baik di dunia maupun di akhirat.
Hanya sebagian besar dari kita seringkali dipersulit oleh tipu daya setan, yang menghilangkan kesadaran kita tentang yang semestinya dikerjakan dan yang seharusnya ditinggalkan. Jika setiap kita kembali pada tuntunan yang benar, maka bisa dipastikan tidak ada hal-hal yang bisa dilanggar aturan Allah sebagaimana sekarang.
Baca Juga: Sinopsis PARAVAMAVATAR SHRI KRISHNA Hari Ini 16 Oktober: Kanha Melihat Sapi, Kanha Bunuh Vatsasur
Betapa kemaksiatan seperti menjadi rutinitas, perbuatan tidak pantas menebar berserakan. Anak membunuh ibunya, ibu menggugurkan janinnya, kemaksiatan, perzinahan di mana-mana. Sungguh, pertanda hari akhir semakin terasa dekatnya. Sebab perilaku manusia telah hilang dari fitrah semestinya.
Dunia ibarat ladang, yang setiap orang diberikan kesempatan yang sama untuk mengelolanya. Ingin memilih menanaminya dengan tanaman yang baik, memenuhinya dengan amal kebaikan, atau menjadikannya ladang bagi keburukan dan kemaksiatan. Semua mutlak pilihan.
Hanya saja yang perlu setiap kita perhatikan, bahwa pada setiap ladang itu akan dilihat, ditimbang, dinilai dan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat.
Sang Pemilik sejati yaitu Allah ingin melihat, siapa-siapa yang berhasil memanfaatkan lahannya untuk menenami kebaikan, maka dipersilahkan kepadanya untuk memetiknya. Bagi yang memenuhinya dengan keburukan dan kemaksiatan, maka ia pun diberikan kesempatan untuk memetiknya.
Keduanya akan sama-sama merasakan apa yang telah ditanamnya di dunia, lewat surga dan neraka. Meski azab dan siksa sewajarnya ada setelah berakhirnya kehidupan manusia, tetapi tersebab besarnya dosa, Allah pun membuka pintu azab yang bisa saja disegerakan di dunia. Naudzubillah, sungguh betapa azab Allah teramat pedihnya.
1) Tamak dengan kehidupan dunia.
Tidak sedikit manusia yang orientasinya disibukkan debgan kehidupan dunianya. Pikirannya melulu soal harta dan tahtanya. Habis waktu, tenaga dan hidupnya hanya untuk tujuan sesaatnya. Hampir tidak pernah ia memikirkan masa depan sejatinya.
Akhirat sungguh jauh dari upayanya untuk menyiapkan diri. Bila tentang dunia ia tanpa jeda berusaha. Tapi bila untuk Rabbnya, sungguh berhitung luar biasa. Jika untuk yang Maha Menciptakan saja kita enggan mendahulukan, maka Allah pun dapat dengan mudahnya mengabaikan.
Sebagaimana sebuah peringatan yang jelas tertuang dalam sebuah hadist riwayat Imam Tirmidzi, “Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya, maka Allah akan jadikan kekayaan ada dalam hatinya, Allah himpun kekuatannya, dan dunia akan menghampirinya, sedang ia tidak menginginkannya, dan (sebaliknya) barangsiapa menjadikan dunia sebagai cita-citanya, Allah jadikan kefakiran ada di depan matanya, Allah cerai beraikan urusannya dan dunia tidak menghampirinya kecuali apa yang sudah Allah takdirkan untuknya.