Said Didu Bilang Kinerja BRIN Makin Anjlok, Cuma Bisa Urus Minyak Goreng hingga Safari UAS

photo author
Muammar M, Sulsel Network
- Kamis, 25 Agustus 2022 | 11:53 WIB
Mantan Sekertaris Kementerian BUMN, Said Didu
Mantan Sekertaris Kementerian BUMN, Said Didu

SulselNetwork.com-- Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu menyoroti Pengamat politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati menanggapi safari atau kunjungan yang dilakukan Ustaz Abdul Somad (UAS).

Dalam kunjungan tersebut, diketahui UAS menyambangi beberapa tokoh yakni Habib Rizieq Shihab dan Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Aljufri.

Hal itu ditanggapi Said Didu melalui akun Twitter pribadi miliknya. Dalam cuitannya, Said Didu menyinggung soal peran dari BRIN.

Said Didu bahkan mengungkapkan bahwa kualitas dari BRIN dianggap menurun drastis.

"Setelah penelitian pengurangan menggoreng krn harga minyak goreng naik, sorgum ganti terigu, skrg ttg UAS. Kualitas penelitian @brin_indonesia makin anjlok," ujar Said Didu melalui akun Twitter pribadi miliknya, Kamis (25/8).

Baca Juga: MUI Tolak Berikan Sertifikat Halal ke Mie Gacoan, Alasannya Pakai Nama Iblis

Lanjut, Said Didu juga mengungkit terkait kinerja dari BRIN di masa pemerintahan sebelumnya.

"Dulu lembaga penelitian kita hasilnya buat pesawat, kapal laut, kereta dll," tandas Said Didu.

Sementara itu, Wasisto Raharjo yang merupakan bagian dari BRIN menilai pertemuan UAS dengan tokoh agama itu dilakukan untuk mendukung popularitas.

"Artinya, UAS ini sengaja mengangkat dirinya sebagai 'tokoh informal' yang bisa berpengaruh secara politis," ungkapnya.

Baca Juga: Soroti Karyawan Alfamart yang Diancam UU ITE, Said Didu Sayangkan Sikap Manajemen

"Secara signifikan seperti yang dilakukan Habib Rizieq. Di sini UAS memang ingin menaikkan statusnya sebagai simbol baru dalam politik islam ke depan," tambah Wasisto.

Meski begitu, menurut Wasisto, UAS masih kekurangan panggung untuk menjadi simbol baru dalam kekuatan politik Islam.

"Di satu sisi populer di daerah basisnya, tersebar di Sumatera, tapi kurang dapat panggung di Jawa, ini menjadi semacam paradoks. UAS juga tahu bahwa di Jawa itu sudah banyak aktor yang berpengaruh daripada dia sendiri, sehingga saya pikir UAS juga berpotensi menjadi penyeimbang," pungkasnya. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muammar M

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X