"Sesuai ekspektasi, Badan Pusat Statistik merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05 persen pada 2023. Perekonomian Indonesia masih didukung oleh konsumsi dan investasi. Rilis data ini diharapkan dapat menahan pelemahan rupiah lebih lanjut," kata Reny kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
"Pergerakan pasar uang global masih volatile dipengaruhi sentimen eksternal terutama waktu pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang masih penuh ketidakpastian," ujarnya.
Setelah data inflasi AS dirilis meningkat, sejalan dengan sejumlah pejabat bank sentral AS atau The Fed yang juga mengindikasikan kebijakan yang masih hawkish sehingga potensi suku bunga AS pada levelnya saat ini masih akan dipertahankan beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, konsensus pasar menurut CME Fedwatch Tools memperkirakan Fed Funds Rate akan mulai diturunkan sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Mei 2024, mundur dibandingkan perkiraan sebelumnya untuk dapat turun di bulan Marer 2024.
Setelah rilis data tenaga kerja nonfarm payrolls AS yang lebih tinggi dari ekspektasi pada pekan lalu, pelaku pasar kembali melakukan aksi beli terhadap dolar AS sekaligus mendukung fenomena higher for longer Fed Funds Rate lebih lanjut.
Pada perdagangan hari ini, Reny memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di rentang Rp15.680 per dolar AS hingga Rp15.738 per dolar AS.
Artikel Terkait
Modal 11 Ribu Rupiah Sudah Dapat Kuota 2,5 GB, Ini Paket Freedom Internet Terbaru IM3
Bank Indonesia Pastikan Kecukupan Uang Rupiah Selama Ramadan dan Idul Fitri 2023
Jadi Konten Kreator di Noice, Driver Ojol Dapatkan Hampir 8 Juta Rupiah Sebulan
Polda Sulsel Bongkar Penipuan Online Alias Pasobis Beromzet Miliaran Rupiah di Sidrap
Modal Transaksi Mulai 10 Ribu Rupiah Pakai OVO, Konsumen Ini Dapat Mobil Listrik
Dukungan Untuk Warga Gaza Terus Mengalir, Pengusaha Muslimah di Sulsel Kumpulkan Donasi Jutaan Rupiah