SulselNetwork.com--Kebijakan BBM satu harga yang mulai diberlakukan tahun 2017 lalu, kini telah menjangkau Pulau Matalaang di Desa Sabalana. Salah satu titik terluar dari Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
Wilayah ini berbatasan dengan Nusa Tenggara Barat (NTB). Bahkan Waktu tempuh Kota Bima di Pulau Sumbawa hanya butuh 2-3 jam, dibanding ke Kota Makassar (ibu kota Provinsi Sulsel) atau Kota Pangkajene (ibu kota Kabupaten Pangkep) yang memakan Waktu 2-3 hari.
Bagi masyarakat di Pulau Matalaang, Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite adalah barang sangat penting. Selain untuk bahan bakar perahu, pertalite juga jadi bahan bakar genset yang jadi sumber listrik utama di pulau.
Salah seorang warga Pulau Matalaang, Ramlan menuturkan, nelayan sangat bergantung pada ketersediaan stok BBM. Kadang mereka terpaksa menganggur dan tidak melaut karena tak adanya stok BBM dari daratan Sulawesi.
“Kadang seminggu atau sebulan tidak ada pertalite, mau ambil di Lombok (Nusa Tengara Barat) juga susah karena pernah ada kejadian nelayan ambil disana justru ditangkap,” ungkapnya kepada SulselNetwork.com lewat sambungan telepon, Minggu (18/08/2024).
Baca Juga: 11 Titik SPBU Hijau di Sulsel Jadi Bukti Pertamina Dukung Transisi Energi Terbarukan
Masyarakat pulau terluar yang selama ini kesulitan mengakses BBM merasa terbantu dengan hadirnya program BBM Satu Harga. Mereka pun berharap agar program BBM satu harga terus dipertahankan dan diperluas ke wilayah pelosok lain.
Kebijakan tersebut telah berlaku di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) Desa Sabalana, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep.
BBM Satu Harga merupakan program yang menyediakan BBM bersubsidi dengan harga yang sama di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di wilayah 3T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal).
Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap energi yang terjangkau dan berkualitas, serta mewujudkan keadilan sosial.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi ikut mendorong program pemerintah. Selain di Pulau Matalaang, jumlah lembaga penyalur atau SPBU per Agustus 2024 sebanyak 53 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SPBU 3T) di wilayah Sulawesi.
Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Fahrougi Andriani Sumampouw menjelaskan Pertamina berupaya menyalurkan energi ke seluruh pelosok terutama di wilayah Sulawesi yang secara geografis memiliki banyak tantangan baik infrastruktur dan akses yang terbatas.
“Sejalan dengan amanat sila ke lima Pancasila yaitu memberikan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia terkhusus wilayah Sulawesi dengan mewujudkan SPBU 3T merupakan suatu tugas mulia untuk menghadirkan energi kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan keseharian yang belum pernah mereka rasakan dengan mudah untuk mendapatkan bahan bakar dan harga yang sama dengan diperkotaan,” ujar Fahrougi.
Artikel Terkait
Penggunaan Avtur Penerbangan Haji di Makassar Naik 51,4 Persen, Pertamina Patra Niaga Sukses Suplai Kebutuhan untuk Wilayah Sulawesi
Pertamina Patra Niaga Sulawesi Kembali Ukir Prestasi, Raih 39 Penghargaan di ENSIA 2024
Hari Konservasi Alam Nasional, Pertamina Patra Niaga Sulawesi Gelar Aksi Bersih-Bersih di Kebun Raya Jompie Parepare
Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare Raih Penghargaan Program Kampung Iklim 2024 dari KLHK
Pertamina Patra Niaga Sulawesi Lanjutkan Penerapan QR Code BBM Subsidi, Sukses Urai Antrian di SPBU