SulselNetwork.com -- Sebagai langkah mencapai visi Indonesia Emas, stabilitas sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi fondasi yang kokoh untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah. Data terkini menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan di Sulsel tumbuh positif.
Dari data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlihat bahwa pada posisi Oktober, Aset perbankan tumbuh sebesar 7,23%, Dana Pihak Ketiga meningkat 8,71%, dan penyaluran kredit naik 6,90%, dengan Non-Performing Loan (NPL) yang terjaga di level 2,90% dengan Loan to Deposit Ratio sebesar 123,45%.
Kemudian, Kredit Sektor Perbankan didominasi oleh kredit sektor Perdagangan Besar dan Eceran dengan (38,48%) disusul penyaluran kredit untuk pemilikan peralatan Rumah Tangga Lainnya (29,02%) dan kredit untuk pemilikan rumah tinggal (25,24%). Penyaluran kredit di Sulsel masih didominasi oleh kredit produktif.
Meski demikian, Kepala Kantor OJK Sulselbar Darwisman mengungkapkan bahwa beberapa sektor ekonomi menunjukkan pertumbuhan yang terkontraksi seperti Konstruksi, Jasa Kemasyarakatan Sosbud, Hiburan, serta Listrik Gas dan Air.
“Kredit UMKM pada periode Oktober 2024 mengalami pertumbuhan sebesar 5,41% dengan rasio NPL 4,63%. Pangsa kredit UMKM mencapai 38,41% dari total kredit dengan jumlah debitur 913.080 rekening. Penyaluran kredit tersebut baru menjangkau 50% dari jumlah UMKM di Sulawesi Selatan tercatat sebesar 1.801.842 UMKM,” katanya.
Menurut Darwisman, Penyaluran KUR di Sulsel s.d 15 November 2024 telah tersalurkan sebesar Rp15,20 triliun kepada 280.142 debitur. Penyaluran KUR terbesar pada sektor pertanian sebesar Rp6,94 triliun dengan share 45,62% dan sektor perdagangan sebesar Rp5,15 triliun dengan share 33,89% dan didominasi oleh segmentasi Mikro dengan penyaluran mencapai Rp12,38 triliun dengan share 81,40%.
Sedangkan pada sektor IKNB, Perkembangan Industri Jasa Keuangan Non Bank di Sulsel menunjukkan pertumbuhan pada perusahaan pembiayaan (12,57%), pergadaian (26,98%), modal ventura (2,94%) serta total aset dana pensiun (19,25%) maupun perusahaan penjaminan (7,63%). Begitupun dengan fintech peer to peer lending yang tumbuh sebesar 59,80% dengan jumlah rekening penerima pinjaman aktif sebanyak 498.960 rekening.
Pada sektor pasar modal, tingkat inklusi masyarakat terhadap produk pasar modal mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan tercermin dari jumlah SID di Sulsel yang tumbuh sebesar 29,62% (yoy). Kepemilikan saham di Sulsel berdasarkan jenis pekerjaan didominasi oleh pegawai swasta sebanyak 38.271 rekening, kemudian disusul oleh pelajar 32.120 rekening dan pengusaha 17.671 rekening.
Adapun kepemilikan saham berdasarkan range umur didominasi oleh investor dengan range umur 18-25 tahun. Selain produk seperti saham, reksadana, dan obligasi, kini tersedia juga Securities Crowdfunding (SCF) sebagai inovasi alternatif pembiayaan yang sangat relevan untuk mendukung UMKM. SCF memberikan peluang bagi UMKM untuk mengakses modal melalui pasar modal, sehingga dapat mendorong pertumbuhan usaha mereka sekaligus memperluas basis investor ritel.***
Artikel Terkait
Banding Nilai Pasar hingga Pengalaman Maarten Paes vs Emil Audero, 2 Kiper di Klub Elite Luar Negeri yang Bisa Tambah Kekuatan Garuda
Konsumsi Media di Indonesia Didominasi Medsos? Begini Kata CEO Props di Event Mediapreneur Talks Promedia di Palembang
Ironi Banjir Rob di Jakarta: Pj Gubernur Soroti Tanggul yang Belum Rampung hingga Daftar 13 Wilayah Terdampak
Mengintip Rumor Ole Romeny ke Oxford United hingga Marselino yang Mulai Percaya Diri Bermain di Liga Kasta 2 Inggris!
3 Fakta Terkini Kasus Korupsi yang Pernah Terjadi Indonesia, Terbaru Harvey Moeis Klaim Tak Nikmati Uang Korupsi Rp300 Triliun