SulselNetwork.com-- Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki peran strategis sebagai sentra produksi nasional untuk komoditas hortikultura, khususnya bawang merah dan cabai rawit. Produksi bawang merah di Sulsel menempati peringkat kelima nasional, sementara cabai rawit berada di peringkat ketujuh.
Kepala OJK Sulselbar, Darwisman, mengatakan kontribusi Sulsel terhadap produksi bawang merah mencapai 10,07 persen atau 201,42 ribu ton dari total produksi nasional. Sedangkan, untuk cabai rawit, Sulsel menyumbang 1,9 persen atau 28,42 ribu ton secara nasional.
“Kontribusi hortikultura Sulsel sangat signifikan, terutama bawang merah sebesar 14,4 persen dan cabai rawit 10,9 persen. Ini menunjukkan potensi besar yang harus terus dikembangkan,” ujar Darwisman, belum lama ini.
Tren produksi bawang merah di Sulsel menunjukkan peningkatan signifikan sejak 2018, dari 92,39 ribu ton menjadi 201,42 ribu ton pada 2023. Peningkatan ini juga diikuti oleh perluasan lahan, dari 9,30 hektare (Ha) pada 2018 menjadi 16,44 Ha pada 2023.
“Sebanyak 80 persen produksi bawang merah berasal dari Kabupaten Enrekang. Ini perlu terus didorong agar kontribusi terhadap nasional tetap terjaga,” tambahnya.
Untuk cabai rawit, produksi mengalami fluktuasi, namun menunjukkan tren positif. Pada 2018 tercatat 36,57 ribu ton dan meningkat menjadi 28,42 ribu ton pada 2023. Luas lahan cabai rawit pun relatif stabil, dari 5,74 Ha pada 2018 menjadi 5,73 Ha pada 2023.
Baca Juga: Ingatkan Masyarakat Hati-hati Pilih Pinjol, Darwsiman: Harus Terdaftar dan Diawasi OJK
Lima kabupaten utama penyumbang produksi cabai rawit di Sulsel antara lain Takalar (17,88 persen), Enrekang (16,86 persen), Jeneponto (12,30 persen), Wajo (7,53 persen), dan Gowa (7,45 persen).
Meski memiliki potensi besar, pengembangan komoditas ini menghadapi sejumlah tantangan seperti ketergantungan musim, bencana banjir di Wajo, perubahan iklim, stabilitas harga, ketersediaan stok, serta akses permodalan.
Darwisman menegaskan perlunya langkah-langkah preventif seperti teknologi budi daya modern (greenhouse), penyimpanan dingin (cold storage), distribusi ke daerah defisit, serta penguatan regulasi impor.
“OJK bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) akan terus mendorong akses permodalan melalui skema program champion untuk mendukung pertumbuhan sektor ini,” jelasnya.
Dengan pengembangan yang tepat, Sulsel diharapkan mampu mempertahankan dan meningkatkan kontribusinya sebagai sentra produksi hortikultura nasional, sekaligus mendorong kesejahteraan petani lokal dan stabilitas pasokan pangan secara nasional.