Pengalaman menyesal mengabaikan medical checkup dirasakan oleh Riana (45) saat didiagnosis memiliki kolesterol tinggi. Beberapa kali Riana mengeluhkan rasa pegal, mudah lelah, dan sering sakit pada persendian. Ia mencoba mengurangi rasa nyeri tersebut dengan jasa pijat karena mengira kelelahan terjadi akibat setiap hari harus berangkat kerja sangat pagi dan sampai di rumah sudah menjelang malam.
Saat rasa sakit tidak tertahan lagi, ia pun memutuskan memeriksakan diri ke rumah sakit. Oleh dokter, Riana disarankan medical checkup. Dari pengalaman pemeriksaan, barulah ia tahu ternyata ia terkena kolesterol.
Dua kasus di atas masih terhitung sederhana karena dalam beberapa kasus lainnya, gejala ringan dapat meningkat menjadi penyakit kritis, seperti gagal ginjal kronis dan kanker. Beberapa penyakit kritis ada yang menunjukkan gejala sistemik dan memberikan rasa tidak nyaman pada tubuh, seperti mual, muntah, sering sakit kepala, sering gatal-gatal, anemia, sulit bernafas, sulit tidur, dan sebagainya. Sayangnya, gejala ini sering diabaikan dan tidak segera memeriksakan diri ke dokter. Ada juga yang setelah didiagnosis tapi niat untuk memperbaiki gaya hidup sangat kecil. Banyak juga yang melakukan asumsi dan pengobatan sendiri, seperti ‘ah masuk angin’, cukup minum pereda nyeri atau pakai jasa pijat saja.
“Gejala ringan bila dibiarkan bisa berisiko meningkatkan gejala yang lebih parah. Misalnya, bagi penderita gagal ginjal kronis, jika rasa tidak nyaman diabaikan maka gejala lainnya dapat terjadi, seperti susah berkemih, urin berbusa dan berdarah. Namun, penyesalan tidak ada gunanya karena harus menjalani cuci darah secara periodik. Banyaknya kasus PTM yang sudah terjadi pada orang muda dan publik figur seharusnya menjadi pelajaran betapa gaya hidup jika kebablasan dapat membawa pada penderitaan seumur hidup bahkan berisiko meninggal dunia,” sebut dr. Fridolin.
PTM masih bisa dicegah dengan menghindari faktor pencetus risikonya. Sayangnya, tidak semua orang berniat mengubah gaya hidup, bisa jadi tidak sempat, lingkungan pergaulan tidak mendukung, atau sudah menjadi kebiasaan hidup tidak teratur yang sudah dilakukan menahun sejak kecil. Demikian juga mengenai medical check up, banyak yang abai karena merasa masih muda, jarang sakit, dan tidak memiliki waktu dan dana khusus untuk pemeriksaan kesehatan.
Nasehat memperbaiki gaya hidup, memperhatikan pola makan, rutin berolahraga, istirahat yang teratur, dan menghindari stres, sebenarnya sudah sering disuarakan oleh dokter dan pemerhati kesehatan. Artinya, sebagian masyarakat sudah mendapatkan cukup literasi dan mengerti bahaya dari gaya hidup yang buruk tersebut. Akan tetapi, niat mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat jauh lebih sedikit. Padahal, jika penderita PTM terus bertambah, berpotensi menurunkan produktivitas pekerja. Jika pasien terancam putus sekolah atau tidak dapat lagi bekerja, kualitas hidup pun semakin turun. Meningkatnya jumlah orang sakit dapat meningkatkan kemiskinan karena dialihkannya tujuan produktif ke pengobatan penyakit.
Pasalnya, PTM tidak terjadi secara mendadak tapi disebabkan oleh kebiasaan menahun. Gejalanya sering tidak dirasa, sering juga gejala tidak spesifik, menyerang perlahan tapi diketahui terlambat lalu berkembang semakin parah menjadi penyakit yang lebih serius. Proses pengobatan PTM biasanya berkelanjutan dan membutuhkan biaya tinggi. Pada akhirnya, persoalan ini dapat memiskinkan pasien dan keluarganya.
Baca Juga: AHY Menyusus Ayahnya SBY ke Jerman Setelah Bertemu Surya Paloh dan Anies Baswedan
Dr. Fridolin menyarankan agar semua pihak mengambil peran memutuskan rantai PTM. Perlu regulasi yang mendukung untuk menekan kasus PTM, misalnya soal kandungan dan dosis pada makanan dan memberikan solusi atas keluhan masyarakat menyangkut ketersediaan fasilitas kesehatan dan beban pembiayaan penyakit kritis.
Para pelaku kesehatan pun perlu aktif menyebarluaskan pemahaman dan kesadaran pentingnya hidup sehat dengan memanfaatkan banyak kanal komunikasi. Selain itu, setiap pribadi dan keluarga Indonesia sebaiknya memberikan perhatian serius soal mempersiapkan jaring pengaman finansial keluarga untuk berjaga-jaga dari kemungkinan risiko PTM .
Perlunya mengamankan finansial sejak usia muda dibenarkan oleh Antonius Tan. Katanya, kebanyakan anak muda tertarik pada investasi dan berani mencoba berbagai platform investasi meskipun mengandung risiko tapi tetap melanjutkannya karena adanya potensi keuntungan. Namun, kesadaran berinvestasi idealnya diikuti dengan kesadaran berasuransi karena asuransi berperan menjaga uang kita agar tidak hilang jika terjadi risiko sakit, kecelakaan, atau meninggal dunia
Sayangnya, masih banyak yang enggan berasuransi, biasanya terkendala komitmen membayar premi. Solusi dari Anton agar masyarakat bisa mendapat premi yang murah dan lebih berpeluang diterima pengajuan asuransinya adalah berasuransi saat usia masih produktif dan masih sehat. Asuransi online dapat menjadi pilihan karena premi relatif murah dan cara pembelian pun mudah. Salah satunya Super You by Sequis Online yang menyediakan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan dengan premi terjangkau agar masyarakat dapat berasuransi.
Mengakhiri penjelasannya, Anton mengajak generasi muda Indonesia dapat memaknai Hari Sumpah Pemuda dengan berinisiatif mencegah PTM.
“Kita dapat berpartisipasi menurunkan prevalensi PTM dengan mengurangi sikap konsumtif termasuk tidak FOMO pada makanan kekinian agar terhindar dari risiko PTM Dengan demikian kita bisa berkesempatan menabung. Jika memiliki tabungan otomatis memiliki dana untuk membayar premi asuransi. Pada akhirnya, uang yang kita siapkan tetap terjaga dan tidak tergerus untuk biaya rumah sakit,” tutup Anton. (Ani/Sunet)
Artikel Terkait
Sinopsis Ikatan Cinta 28 Oktober 2022: Terungkap! Abimana Teman Lama Aldebaran
Han So Hee Rela jadi Kasir Demi Bantu Usaha Temannya, Netizen: Dia Kurangnya Apa Sih?
AHY Menyusus Ayahnya SBY ke Jerman Setelah Bertemu Surya Paloh dan Anies Baswedan
Bacaan Doa Minum Air Zam-zam: Air Paling Murni dengan Segudang Manfaat
Doa Setelah Sholat Hajat Tulisan Latin dan Artinya, Agar Cita-cita dan Impian Dikabulkan Allah SWT