SPIRIT TAHAJUD: Hari Kebangkitan Dari Kematian

photo author
Mardhani Muchlis, Sulsel Network
- Sabtu, 18 November 2023 | 09:26 WIB
Ilustrasi Hari Kiamat (Pixabay)
Ilustrasi Hari Kiamat (Pixabay)

Dahulu, saat manusia lahir ke dunia, tak satupun yang merasa pernah memesan sebelumnya; ingin lahir dari rahim ibu yang mana dan ingin memiliki fisik setampan apa. Akan tetapi, ketika di dunia ini, manusia bisa memesan dan berusaha, ingin seperti apa ia lahir untuk kali kedua setelah matinya ? Yakni saat manusia dibangkitkan lagi dari kuburnya, dan mereka akan dibalas sesuai amal usahanya.

Saat itu, manusia lahir kembali dengan rupa yang berbeda-beda; ada yang dibangkitkan dalam keadaan cacat, ada pula yang sempurna fisiknya. Ada yang dibangkitkan dalam keadaan terhormat dan ada pula yang dibangkitkan dalam keadaan terhina. “Pada hari itu, manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (QS az-Zalzalah 6)

Maka bukanlah orang yang rugi itu adalah orang yang cacat lahir ke dunia, tapi orang yang rugi sesungguhnya adalah orang yang cacat saat bangkit dari kuburnya, lalu menderita selamanya di akhiratnya.

Cacat dunia hanyalah ujian sementara, sedangkan cacat akhirat adalah derita yang tak ada ujung akhirnya. Akan ada nantinya manusia yang lahir kembali dalam keadaan buta, padahal di dunia dahulu ia bisa melihat dengan kedua matanya, “Kemudian akan kami kumpulkan ia dalam keadaan buta (QS Thaha 124 – 125).

Baca Juga: SPIRIT TAHAJUD: Berlaku Sabar Menghadapi Musibah

Bahkan ada lagi yang kondisinya lebih parah dari itu, manusia yang cacat total; buta matanya, bisu mulutnya dan tuli kedua telinganya. Dan bahkan mereka berjalan dengan wajahnya sebagai wujud betapa mereka menderita dan terhina. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak.” (QS. Al-Isra’: 97)

Berita mengerikan itu membuat para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Wahai Nabi, bagaimana orang kafir bisa digiring (menuju mahsyar) dalam keadaan diseret di atas wajahnya?” Beliau bersabda,

‎أَلَيْسَ الَّذِي أَمْشَاهُ عَلَى الرِّجْلَيْنِ فِي الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟

“Bukankah Dzat yang menjadikan dia bisa berjalan di atas kedua kakinya ketika hidup di dunia, Dia juga Maha Kuasa untuk menjadikannya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?” (HR Bukhari dan Muslim)

Nah, sekarang pilihannya tergantung kita, apakah ingin lahir kembali di akhirat dalam keadaan sempurna dan terhormat, ataukah rela kelak lahir dalam kondisi cacat dan terhina. Allahumma inna nas’alukal 'afwa wal ‘aafiyah fid dunya wal akhirah.

Mari Berdoa dan Tahajud

‎رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Robbi innii limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir.

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. (Al Qashash [28]: 24). Aamiin.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mardhani Muchlis

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X