"Kalau kita sepakat katakan intervensi dari hulu. Sebelum memiliki balita stunting, maka calon pengantin, ibu yang sedang hamil, termasuk ibu-ibu yang memiliki balita harus menjadi prioritas," jelas Teguh Santoso.
Kedua, bentuk intervensi. Intervensi terdiri dari dua bentuk yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik berupa pemenuhan gizi berupa makanan tambahan serta pemenuhan protein balita. Sementara itu intervensi sensitif meliputi perbaikan lingkungan keluarga, akses air bersih termasuk rumah yang layak huni.
"Keduanya sama-sama penting tapi harus bisa dibuat skala prioritas. Misalnya, jangan sampai mendahulukan rumah layak huni sementara gizi tak terpenuhi. Jadi skala prioritas itu penting,” tukasnya.
Selain dua strategi di atas, Sukaryo Teguh Santoso juga menjelaskan 5 pilar atasi stunting, yaitu pilar pertama, komitmen kepemimpinan harus berkelanjutan.
"Jadi misal, kalau masa kepemimpinan berakhir di tahun 2023, kebijakan harus dilanjutkan. Kalau kebijakan tidak dilanjutkan akan mengubah semua yang telah direncanakan. Maka untuk mencegah itu komitmen dan visi kepemimpinan harus berkesinambungan," kata Teguh Santoso.
Pilar kedua, literasi kepada masyarakat berupa komunikasi perubahan perilaku. Di sini kader-kader penyuluh kesehatan harus aktif melakukan proses pendampingan.
"Kader-kader yang melakukan pendampingan harus aktif karena itulah yang mendekatkan keluarga dari hari ke hari. Kedekatan kader ini dengan keluarga dalam proses pendampingan menjadi penting," bebernya.
Pilar ketiga, keterlibatan lintas sektor. Pilar keempat, pemenuhan gizi dengan memastiakan pemenuhan kebutuhan gizi mudah, murah dan cepat. Dan Pilar kelima memperkuat sistem pemantauan evaluasi.
Untuk diketahui, angka stunting di Indonesia terus mengalami penurunan setiap tahun setidaknya sejak tahun 2016. Bahkan, di tahun-tahun saat dunia termasuk Indonesia dihantam badai pandemi Covid-19, penurunan stunting tetap terkendali dengan baik.
Penurunan yang signifikan terjadi dalam rentang waktu dari tahun 2021 hingga 2022. Dalam rentang waktu ini terjadi penurunan sebesar 2,8 persen, dari angka 2,24 di tahun 2021 menjadi 2,6 di tahun 2022.
Artikel Terkait
Hilirisasi Tambang Mineral Mengadopsi Konsep Hijau
Rumah Sakit Regional La Mappapenning Bone Segera Rampung, Cover Layani Warga Sinjai - Soppeng - Maros
Tak Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini, Mentan SYL Beralasan Lagi Dinas di Luar Negeri
Wujudkan Impian Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia, KKP bersama BINUS dan Unpad Gelar Diskusi Terbuka
Jelang Wukuf di Arafah, Legislator Asal Sulsel Ingatkan Jamaah Haji Jaga Kesehatan