SulselNetwork.com -- Harga saham bank digital seperti PT Bank Jago Tbk. (ARTO) dan PT Allobank Indonesia Tbk. (BBHI) kompak melesat sebulan terakhir. Namun, nyatanya harga saham bank digital masih jauh dari harapan, telah lama tidur sejak 'hype' bank digital medio 2021 berlalu.
Berdasarkan data RTI Business, harga saham ARTO mencapai level Rp3.490 pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (1/12/2023), melonjak 93,89% dalam sebulan.
Harga saham BBHI pun melesat 19,08% dalam sebulan dan ditutup pada level Rp1.560 pada perdagangan pekan lalu.
Baca Juga: Update Pendaftar Haji di Makassar Mencapai 42.973 Orang, Masa Tunggu 40 Tahun
Emiten bank digital lainnya PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) mencatatkan kenaikan harga saham hingga 64,9% dalam sebulan dan ditutup di level Rp384. Sementara harga saham PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) terdorong 30% ke level Rp312.
Tim JP Morgan bahkan sempat memberikan pandangan optimistis terhadap prospek saham salah satu bank dital, yakni ARTO. Hal itu tecermin dari peringkat overweight yang disematkan melalui riset akhir Oktober 2023.
Pandangan itu berubah setelah terjadi reli saham ARTO dalam sebulan terakhir. Dilansir dari Bloomberg, Tim Analis JPMorgan yang di dalamnya termasuk Harsh Wardhan Modi menulis sebuah catatan yang menyarankan investor memangkas eksposur terhadap saham ARTO.
“Reli harga saham ARTO dalam sebulan terakhir terlalu dipenuhi banyak optimisme,” katanya dikutip dari Bloomberg beberapa waktu lalu.
Dengan demikian, JP Morgan merevisi turun peringkat saham ARTO dari overweight atau buy menjadi netral dengan target harga tetap di Rp2.700. Perbankan investasi asal Amerika Serikat itu menilai valuasi sudah sangat mahal.
Bloomberg melaporkan Macquarie juga telah merevisi turun peringkat saham ARTO dari netral menjadi underperform dengan target harga Rp1.600.
Baca Juga: Sinopsis Serial Netflix 'Sweet Home 2': Kisah Penyintas Green Home yang Bertahan dari Ancaman Hidup
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengatakan kinerja saham bank-bank digital memang naik dalam sebulan terakhir, tapi masih jeblok sepanjang tahun berjalan.
"Ini karena harga saham mereka masih overvalued. Valuasi mereka [emiten bank digital] tidak wajar, investor pun lebih cenderung untuk jual/lepas saham tersebut untuk saham yang yang lebih kondusif," katanya kepada dikutip daro Bisnis beberapa waktu lalu.
Menurutnya, emiten bank-bank digital juga wajar mendapatkan rekomendasi sell karena kurang prospektif.