Review Serial Jepang First Love: Top 10 di Netflix, Tentang Kisah Cinta Anak SMA yang Dipermainkan Takdir

photo author
Mardhani Muchlis, Sulsel Network
- Sabtu, 3 Desember 2022 | 19:54 WIB
lirik lagu First Love yang dipopulerkan oleh Utada Hikaru lengkap dengan terjemahan dalam Bahasa Indonesia.
lirik lagu First Love yang dipopulerkan oleh Utada Hikaru lengkap dengan terjemahan dalam Bahasa Indonesia.

SulselNetwork.com — Series First Love merupakan film yang saat ditonton membuat Anda merasa kesulitan. Bukan karena serial ini buruk, tetapi ada banyak hal yang relate dengan sebagian besar orang. Serial ini adalah pembuktian yang entah untuk ke berapa kalinya, bahwa Jepang memang sepertinya hebat membuat penonton baper dan pedih hati orang-orang yang gagal move-on dari cinta pertama mereka saat remaja.

Memang ada banyak hal yang sulit dilupakan oleh manusia semasa hidupnya, salah satunya adalah cinta pertama. Cinta pertama menjadi berarti bukan selalu karena orang yang kita cintai itu paling spesial atau paling baik di antara yang lain.

Bisa jadi ketika kita mengalami kisah itu, kita belum mengenal patah hati. Semuanya, mulai dari rasa tertarik, tatapan, hingga sentuhan fisik adalah yang pertama bagi kita sehingga menjadi tolok ukur bagi kisah cinta kita yang selanjutnya.

Bagi kamu, terutama yang lahir di era 80-90an, pastinya sudah tidak asing lagi dengan lagu First Love-nya Utada Hikaru. Bahkan, lagu ini semacam dijadikan lagu kebangsaan untuk mengenang cinta pertama. Apalagi, di dalam lagu itu, termaktub lirik tentang bagaimana cinta pertama kita akan selalu punya tempat di dalam hati kita.

Baca Juga: Gubernur Andi Sudirman Dampingi Wapres KH Ma’ruf Amin Kunjungan Kerja ke Wajo

Serial Jepang yang menempati sepuluh besar di Netflix ini memang kental akan nuansa Utada Hikaru dan memang terinspirasi dari lagu tersebut. Kisahnya sederhana, tentang Yae Noguchi, seorang anak SMA di Hokkaido yang bertemu dengan Harumichi Namiki dan jatuh cinta saat memulai waktu mereka sebagai murid tingkat pertama di SMA. Serial ini bercerita tentang kisah keduanya saat SMA diselingi dengan kisah keduanya saat sudah berusia dewasa.

Kisah alamiah yang nyambung dengan memori banyak orang

Sebagai negara di Asia Timur, ada banyak hal di Jepang yang masih relate sama budaya kita. Alih-alih melihat kehidupan anak SMA berbaju bebas penuh party dan free sex seperti yang kerap ditampilkan di film-film Hollywood, kita akan melihat banyak anak SMA yang lugu, malu-malu, naksir tapi gengsi, dan tentu saja nembak pakai kode.

Baik Yae Noguchi dan Harumichi Namiki, keduanya digambarkan apa adanya, enggak punya kelebihan yang spesial, sangat natural. Harumichi Namiki adalah anak dari keluarga berpenghasilan rendah yang rumahnya dari tripleks, adiknya tuna rungu, agak keras kepala dan hobi merokok, tetapi keluarganya guyub dan bahagia.

Sementara itu, Yae Noguchi adalah anak tunggal dari ibu yang biasa saja, terlihat ketergantungan dengan rokok dan ceplas-ceplos. Ibu Yae Noguchi pun agak protektif dengan sang anak, seperti ibu-ibu Asia pada umumnya. Bahkan, ia menjadi salah satu faktor jauhnya hubungan mereka berdua kelak. Rumah Yae Noguchi lebih bagus daripada rumah Namiki, tetapi bukan rumah orang kaya.

Yae Noguchi bermimpi menjadi pramugari, sementara itu Harumichi Namiki ingin menjadi pilot. Saat SMA, dunia terasa penuh harapan, mimpi bisa setinggi langit. Namun, apakah mereka bisa?

Jawabannya langsung ada pada episode pertama: keduanya enggak bisa memenuhi mimpi mereka karena keadaan. Harumichi Namiki menjadi petugas bandara dan Yae Noguchi, usai bercerai dari seorang dokter, menyambung hidup dengan menjadi supir taksi.

Dipikir-pikir lagi, apa yang ditawarkan oleh First Love bukan sekadar seperti apa yang tertera pada judul. Ini bukan kisah tentang cinta, tetapi kehidupan.

Hayo, berapa banyak di antara kamu yang mencintai sekaligus bermimpi setinggi gunung, tetapi ujungnya enggak hidup bareng cinta pertamamu dan enggak bisa meraih mimpimu? Ketika menonton First Love, kamu enggak akan merasa sendirian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mardhani Muchlis

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X