Keberadaan Ekowisata Mangrove Lantebung, kata Syafaat memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Mangrove menjadi salah satu upaya mengendalikan dampak perubahan iklim.
"Mangrove dapat menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar dan menyimpannya dalam batang dan tanah. Sehingga turut mendukung pemerintah dalam mengembangkan ekosistem karbon biru," jelas Syafaat.
Akar-akar yang kuat yang dimiliki mangrove juga berperan dalam mencegah terjadinya abrasi dan menahan terjangan gelombang ketika air laut pasang. Selain itu, keberadaan ekosistem mangrove juga menjadi potensi ekowisata yang dapat mendorong perekonomian masyarakat.
Salat satu pengunjung Ekowisata Mangrove Lantebung, Adrian mengungkapkan pengalamannya kepada penulis. Menurutnya pemandangan hijau mangrove dan senja saat matahari mulai terbenam adalah spot foto terbaik.
"Alasan paling Utama saya berkunjung tempat ini adalah karena keindahan sunsetnya diantara rimbunnya manrove," katanya.
Meskipun tempat ini terbilang baru untuknya, pengunjung asal Gowa itu juga mengatakan bahwa situasi di Mangrove Lantebung sesuai dengan ekspektasinya.
"Ya sesuailah. Good. Very Good. Keren, rate 100," tuturnya.
Selain menyajikan keindahan alam yang memanjakan mata, di Ekowisata Mangrove Lantebung, pengunjung juga dapat menyaksikan aktivitas nelayan di sore hari. Para nelayan setiap harinya akan menangkap kepiting mulai dari dari jam 15.00 WITA hingga menjelang waktu Maghrib.
Selain kepiting, beberapa nelayan juga mencari udang. Aktivitas ini sudah aktif dilakukan jauh sebelum tempat tersebut dijadikan sebagai tempat wisata dan masih terus berjalan hingga saat ini.
"Kami biasa keluar ada sore hari saat pasang air. Keberadaan mangrove sangat penting untuk kehidupan laut, apalagi kami pencari kepiting dan udang," kata Ansar, nelayan di Mangrove Lantebung.
Bagi yang ingin berkunjung, Ekowisata Mangrove Lantebung terbuka untuk umum, mulai dari Senin hingga Minggu. Wisata ini mulai beroperasi pada pukul 07.00-18.00 Wita.
Untuk menikmati keindahan sunset di Lantebung tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar. Hanya dengan merogoh kocek Rp 5.000 per orang, pengunjung sudah bisa mengeksplore destinasi wisata tersebut.
Namun, harga tersebut belum termasuk dengan pembayaran parkirnya. Untuk kendaraan roda dua (motor) biaya parkirnya Rp2.000 dan roda empat (mobil) Rp 5.000.
Meskipun memiliki daya tarik dan keindahan alam yang ditawarkan. Ekowisata Mangrove Lantebung yang masuk 75 besar penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2023 ini sudah jarang didatangi oleh wisatawan.
Artikel Terkait
Ini Sederet Inovasi Teknologi PTK untuk Dukung Net Zero Emission di Pertamina Group!
Hadir di INAMARINE 2024, PTK Diserbu Pengunjung Hingga Jadi The Most Favorite Exhibitor
Inkubasi Ekonomi Bahari, Langkah Strategis PTK Bawa UMKM Binaan Naik Kelas