SulselNetwork.com--“Tan, kamu mau nggak jadi pacarku?”
Kata-kata itu masih terus terngiang di telingaku. Kata-kata yang singkat namun langsung mengena di hati. Kata-kata yang terlontar langsung dari bibir seorang cowok yang selama ini aku kagumi. Seorang cowok yang selama ini melindungiku bila ada bahaya mengancamku.
Rico. Itulah namanya. Nama yang paling sering aku sebut di hari-hariku sebulan terakhir ini. Dialah cowok terpopuler seantero SMA-ku di kota Jogja ini. Wajahnya manis, badannya tegap dan tinggi, menunjukkan suatu karisma yang membuat semua perempuan mabuk kepayang dibuatnya. Belum lagi dia adalah seorang komandan pleton dalam satu tim pleton inti di sekolahku. Tapi di balik perfeksionis yang melekat di dalam dirinya itu tidak membuatnya sombong dan angkuh. Itu yang paling aku sukai dari dirinya.
Kembali ke kata-kata yang terlontar untukku dari Rico. Satu kalimat pertanyaan yang amat sangat tidak aku sangka akan keluar dari mulut seorang cowok idola seantero SMA-ku, satu kalimat pertanyaan yang merasuki otak seorang cewek biasa aja seperti aku. Aku, Rachella Nathania, memang tidak terlihat cantik seperti cewek-cewek kebanyakan di sekolahku. Tapi mungkin aku termasuk cewek beruntung yang dapat merebut hati seorang cowok yang, notabene, seorang perfeksionis yang sangat digemari banyak cewek. Hahaha, aku tertawa sendiri.
Dan tentu saja, dari kata-kata Rico tadi, aku menerima cintanya. Itu bukan karena karismanya yang membuatku klepek-klepek dan bertekuk lutut di hadapannya, tapi semata aku memang mencintainya. Dia seseorang yang selalu melindungiku. Dan entah racun atau obat bius apa yang telah membuatku seperti ini. Yang jelas, aku mencintai hatinya. Bukan karismanya.
Seminggu telah berlalu sejak aku jadian sama Rico. Memang, sih, banyak yang sirik denganku yang berhasil merebut hati seorang cowok idola semua cewek di sekolahku. Bahkan sampai ada senior seangkatan Rico yang ngelabrak aku. Tapi karena keberanian dan kenekatanku melawan senior demi membela diriku sendiri akhirnya senior itu takluk juga.
Malam itu malam minggu. Rico berencana ingin mengenalkanku dengan kedua orang tuanya. Awalnya aku ragu karena aku belum siap secara mental. Tapi dengan segenap usahanya akhirnya dia bisa meyakinkanku.
Sesampainya di rumahnya aku disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Rumahnya terletak di kawasan perumahan elite, tapi rumahnya yang paling sederhana kalau dibandingkan dengan rumah-rumah yang ada di komplek itu. Begitu dipersilakan masuk dan duduk, aku diserbu banyak pertanyaan tentang diriku, di mana tempat tinggalku, dari mana asalku, aku anak ke berapa dari berapa bersaudara, apa pekerjaan orang tuaku, dan masih banyak lagi. Terkadang ada juga pertanyaan yang membuatku bingung dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk menjawabnya. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 19.25, Mamanya yang seorang guru di suatu SD favorit se-Jogja itu menyuruhku makan malam bersama dengan keluarga Rico.
Aku berjalan membuntuti Rico yang berjalan di belakang Papanya, menuju ke ruang makan. Ruang makan yang berukuran sekitar 5×5 meter itu penuh dengan perabotan dapur bermerk. Di meja makan yang terletak di tengah-tengah ruangan itu duduk seorang cowok yang sangat mirip dengan Rico. Aku sudah mengenali sosok itu. Rio. Dialah saudara kembar Rico, seniorku pula. Wajah dan postur tubuh mereka sangat mirip. Hanya saja Rio sedikit dingin dan agak brutal. Rambutnya dibiarkan tumbuh asal dan acak-acakan, berbeda dengan Rico yang meskipun panjang rambutnya hampir menyentuh kerah bajunya tapi rambutnya selalu terlihat rapi dan teratur. Tidak terlalu ramah dengan cewek. Dia juga menjadi idola di sekolahku. Tapi sikapnya yang cuek terkadang membuat cewek-cewek di sekolahku takut mendekatinya, mengingat dia adalah seseorang yang tidak suka dikerumuni cewek-cewek.
Seperti biasa, Rio masih saja memasang tampang cueknya seperti yang dia lakukan di sekolah. Tapi di tampang cueknya itu, malam itu, sepintas terlihat seperti ada yang lain yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Aku yang duduk berhadapan dengannya mengamatinya lekat-lekat, mencoba membaca apa yang digambarkan dalam wajahnya. Ada suatu rasa ketidaksukaan yang terpancar di sana. Apa dia nggak suka kakau aku di sini? Aku berusaha mengusir pikiran negatif itu dan melanjutkan makan malamku bersama keluarga itu.
Sebulan berlalu. Aku dan Rico makin lengket saja. Membuat semua cewek di sekolahku iri padaku. Wajahku memang tidak cantik, tapi aku beruntung karena cowok seperti Rico bisa takluk denganku. Tak sedikit cewek fans Rico yang berpindah haluan mengejar Rio, dan ada beberapa yang beralih ke sang ketua OSIS, Yudha namanya. Orangnya memang biasa aja. Nggak ganteng tapi juga nggak jelek. Tapi sikapnya yang ramah banget sama semua orang akhirnya dia bisa juga menaklukkan beberapa cewek di sekolahku.
Sore itu langit mendung gelap. Sepertinya akan turun hujan lebat. Jam sudah menunjukkan pukul 15.54 saat aku tersadar bahwa langit mulai bergemuruh. Aku segera membereskan barang-barangku yang berserakan di atas meja baca di perpustakaan. Aku harus segera pulang.
Aku berjalan keluar perpus yang berada di lantai dua dan menuruni tangga ke lantai satu. Aku mempercepat jalanku agar aku tidak kehujanan saat pulang nanti. Aku melewati koridor lantai satu yang berdekatan dengan lapangan basket. Di cuaca gelap seperti ini terlihat anak-anak cowok masih bersemangat bermain basket. Awalnya aku mencoba tak acuh pada cowok-cowok itu, tapi karena pandanganku tertuju pada salah satu cowok yang sedang menikmati permainan itu aku mengurungkan niatku untuk langsung pulang. Aku mengira cowok itu adalah Rico pacarku, tapi setelah melihat rambutnya yang acak-acakan aku langsung mengenali sosok itu. Rio! Rio ternyata jago banget main basket! Terlihat dari cara bermainnya yang begitu gesit dan memukau. Wah.
Entah perasaan apa ini, aku ingin sekali memperhatikan wajahnya saat dia melepas topengnya. Melepas segala ‘atribut’ yang dia pakai sehari-hari di sekolah yang membuat cewek-cewek penasaran kenapa dia bisa nggak mau deket sama cewek. Bukan karena saat itu dia hanya bertelanjang dada agar bajunya tidak terkena keringatnya yang melimpah. Tapi sisi lainnya yang agak misterius.
Tanpa aku sadari hujan mulai turun. Perlahan hujan mulai deras, membuatku kecewa karena tidak bisa langsung pulang. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Sambil menunggu hujan reda aku menunggu di bangku depan kelas 10-6 yang tepat menghadap lapangan basket tadi. Seketika anak-anak yang sedang menikmati permainan basket mereka membubarkan diri karena hujan semakin lebat. Saat mataku mencari sosok Rio, ternyata cowok itu sudah menghilang entah ke mana. Sedikit kecewa, sih, karena aku tidak melihatnya lagi. Mungkin cowok itu udah pulang, pikirku.