Cerpen Cinta: Gara-gara Si Kembar, Karya Vika Puspita Septarani

photo author
Muammar M, Sulsel Network
- Selasa, 4 Oktober 2022 | 11:43 WIB
Ilustrasi kembar (Foto : Freepik/ nakardore)
Ilustrasi kembar (Foto : Freepik/ nakardore)

Jam digital unguku menunjukkan pukul 16.39. Hujan masih saja belum reda. Aku biasa pulang sendirian naik bus. Tapi ini sudah terlalu sore, pasti tidah ada bus lagi yang lewat. Aku tekadkan niatku untuk berhujan-hujanan ria agar cepat sampai di rumah. Tapi saat aku hendak pergi dari tempatku duduk tadi, tiba-tiba ada seseorang yang memegang tanganku, seakan mencegahku untuk pergi.

“Kamu mau ke mana?” tanya orang itu. Ternyata dia Rio!

“Pulang,” jawabku singkat.

“Naik apa?”

“Bus.”

“Tau nggak ini masih hujan? Mau kayak anak kecil? Nggak lucu, tau, kalau kamu sampai sakit cuma gara-gara hujan-hujanan.” Dia menatap mataku tajam.

Aku agak kaget dengan ucapan Rio. Kenapa dia jadi perhatian gini?

“Bukan urusanmu kalau aku sakit. Emang kamu siapaku?” Aku mulai sewot.

“Nggak usah belagu. Kamu pacarnya kakakku. Jangan kayak gitu. Kita tunggu sampai hujan reda.” Suaranya mulai melembut.

Entah, aku seperti terbius oleh kata-katanya barusan. Aku menurut saja dengannya. Aku kembali duduk di bangku tadi dan dia ikut duduk di kananku. Keheningan mulai tercipta di antara kami. Dia sudah larut dengan android-nya, entah apa yang dilakukannya dengan benda itu. Tanpa sadar aku memperhatikan wajahnya yang mirip dengan Rico. Mereka memang saudara kembar yang sangat identik. Kalau rambut Rio tidak acak-acakan pasti orang akan sulit membedakan mana Rico dan mana Rio.

“Kenapa ngliatin aku? Suka, ya?” katanya tanpa menoleh ke arahku. Sepertinya dia mencoba untuk menggodaku.

Mukaku serasa memanas dan memerah. “Ih, ge-er amat, sih!? Siapa juga yang ngliatin kamu. Adanya nanti mataku kelilipan gara-gara ngliatin kamu!” Aku berusaha menyembunyikan mukaku, tapi mungkin dia sudah tahu seberapa merah mukaku.

Rio hanya tersenyum kecil. Tapi ada yang beda dari senyumannya itu. Senyuman yang tulus dan tidak terasa dibuat-buat, seperti yang biasa dia lakukan. Aku mulai tertarik dengan sosok Rio, saudara kembar pacarku ini. Rio yang dingin dan brutal kenapa bisa menunjukkan senyumannya yang beda di mataku?

“Hujannya udah reda. Aku anterin kamu pulang aja, yuk? Aku yakin jam segini udah nggak ada bus lewat.” Dia melirik arlojinya yang bermotif tentara itu. Jam digitalku pun memang sudah menunjukkan pukul 17.12. Jarang sekali ada bus yang lewat jam segini, bahkan hampir tidak ada. Aku mempertimbangkan tawarannya itu. Dan pada akhirnya aku menyetujuinya.

Dua bulan berlalu sejak hubunganku dengan Rico berjalan. Tapi beberapa hari yang lalu aku sempat bertengkar dengan Rico. Berita tentang Rio yang menawarkanku untuk pulang sama dia langsung menyebar ke seantero sekolah. Sontak berita itu membuat para fans Rio marah padaku. Dan sepertinya Rico pun agak cemburu. Itulah penyebab pertengkaran kami.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muammar M

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X