Malam ini malam minggu. Demi mengusir kejenuhanku karena konflikku dengan Rico, aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran titik nol kilo meter kota Jogja. Aku sengaja pergi sendirian agar aku bisa sedikit menenangkan pikiranku yang semrawut. Ditemani motor matikku yang sudah aku ubah warnanya menjadi ungu dan bahan bakar yang full tank aku bersiap mengelilingi Jogja malam ini.
Suasana Malioboro sudah padat pengunjung. Sudah menjadi tradisi bahwa setiap malam minggu Malioboro selalu macet. Tapi aku tetap menikmati pemandangan kemacetan ini. Aku menghentikan motor di depan Mal Malioboro dan memarkirkannya. Aku masuk ke McDonald dan memesan McFluit. Setelah beres aku langsung pergi dan ingin menikmati es krimku itu. Tempat tujuanku adalah Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Sesampainya di sana aku menitipkan motorku di komplek Beteng Vredeburg lalu mencari tempat di dekat monumen yang terkena sinar lampu. Aku berhenti di tempat itu, duduk di seberang monumen dan membelakangi jalan raya lalu segera menikmati es krimku sebelum akhirnya meleleh tanpa sempat aku nikmati.
Dari tempatku duduk aku menikmati pemandangan sekitar yang ramai dipenuhi anak-anak muda. Ada yang nongkrong, foto-foto, bahkan ada juga yang mojok alias pacaran. Dari sekian pasangan yang mojok, ada satu pasangan yang duduk di sebelah timur monumen yang sangat menarik perhatianku. Sepasang muda mudi yang terlihat sangat bahagia menikmati setiap detik yang mereka lalui bersama. Tapi sepertinya aku sangat mengenali sosok si cowok itu. Seperti… Rico! Nggak, nggak mungkin itu Rico. Pasti itu Rio. Tapi hati nuraniku mengatakan bahwa itu Rico. Terlihat dari rambutnya yang rapi dan senyumannya yang khas. Aku mencoba mendekati pasangan itu diam-diam dan, benar saja bahwa cowok itu adalah Rico. Pacarku! Seketika aku syok ketika Rico memanggil cewek itu dengan sebutan ‘sayang’. Air mataku mulai meleleh. Aku keluar dari persembunyianku dan ingin menangkap basah mereka berdua. Seketika itu juga mereka yang aku pergoki tampak sangat terkejut, apalagi Rico. Air mataku terus menetes.
“Tan, ini nggak kayak yang kamu pikirin. Aku bisa jelasin semuanya.” Rico berusaha mendekatiku dan aku perlahan mundur selangkah demi selangkah. Tapi tak disangka, entah dari mana datangnya, muncul saudara kembarnya memukul wajah Rico.
“Kamu, tuh, keterlaluan banget, Ric! Aku kecewa banget sebagai saudaramu! Tega banget selingkuhin pacarmu sendiri yang selama ini kamu kejar-kejar! Ayo, Tan. Kita pergi dari sini!” Rio yang penuh dengan amarah dan emosi itu lalu menggandeng tanganku untuk pergi dari tempat itu. Sesaat adegan tadi sempat menjadi tontonan gratis orang-orang yang ada di sekitar situ.
Rio membawaku ke Pojok Beteng Wetan, tempat yang menjadi batas wilayah Kraton Yogyakarta. Di sana terlihat sepi pengunjung. Sepertinya dia sudah tahu kalau aku membutuhkan suatu tempat untuk menumpahkan segala emosi karena kejadian yang aku alami tadi.
“Kamu tadi, kok, tiba-tiba datang? Kamu tau kalo kakakmu di sana?” tanyaku sambil sesenggukan menahan tangis.
“Aku ngikutin dia,” jawabnya.
Aku memandangi wajahnya yang sedang tidak memperhatikan aku. Aku yang masih syok karena kejadian tadi terlihat sangat berantakan.
Dia pun menoleh. Mendapati diriku yang sedang memperhatikan wajahnya. Lalu katanya, “Kalau mau nangis, nangis aja sepuasnya, Tan. Aku tunggu sampai kamu puas nangisnya.” Rio berjalan agak menjauh dariku agar aku dapat menenangkan diri. Tapi, entah mengapa, aku membutuhkannya. Sangat membutuhkannya.
“Rio,” panggilku, masih sambil terisak.
“Apa?” Dia menoleh.
“Kenapa harus kayak gini?” Tangisku semakin keras.
Rio terdiam. Dia tampak berpikir keras karena pertanyaan konyolku ini. “Ini semua salahku, Tan. Maafin aku.” Dia merengkuh tubuhku dan membenamkan wajahku di dadanya yang bidang. Sontak hal ini membuatku terkejut karena Rio melakukannya dengan tiba-tiba. Tapi aku membiarkannya melakukan hal ini, karena aku menjadi merasa sangat nyaman berada di pelukannya.
“Seharusnya sejak awal aku kasih tau kamu tentang Rico.”
Artikel Terkait
CERPEN Bahasa Indonesia Kelas XI: 'Rintihan Perjuanganku'
CERPEN Bahasa Indonesia: Aku dan Impianku, oleh Novita Sari Putri
Cerpen Cinta: Kahaani